Gile Bola

Selamat Ulang Tahun, Mirco Vucinic!

108Jakarta.com - Mirko Vucinic yang lahir 1 Oktober 1983 di Nikšić, Montenegro, memulai bermain sepakbola ketika bergabung dengan klub lokal Sutjeska Nikšić pada 1998. Vučinić hanya bertahan setahun disana karena kemudian bakatnya t


Diego Simeone: Saya Menyanjung Juventus!

108Jakarta.com - Duel panas yang mempertemukan antara Atletico Madrid dengan Juventus, dianggap Simeone sebagai partai final. Apa lagi sebelumnya Atletico harus mengalami kekalahan dari Olympiakos di macthday pertama Liga Champions. Kekalahan 3-2 da

Kudus Jateng

108Jakarta.com - Tugu Identitas Kudus terletak di depan pertokoan Matahari dan posisinya sangat strategis karena berada di tengah Kota Kudus.


Waduh, Katy Perry Diacuhkan Robert Ackroyd

108Jakarta.com - Katy Perry sepertinya memang tidak beruntung soal cinta. Setelah putus dari 'si playboy' John Mayer, Katy malah diacuhkan gitaris band Florence + The Machine, Robert Ackroyd.


Ini Dia Riwayat Kebon Sirih

108Jakarta.com, Kebon Sirih - Anda pasti tak asing dengan Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Beberapa gedung penting, berdiri disana, sebut saja Gedung DPRD DKI Jakarta.

Betawi Punye Cerite 24 Mei 2012 8:38
Orang Rusia di Jakarta
Jakarta tempo dulu. (foto: int)

108Jakarta.com, Kebon Jeruk - Beberapa waktu lalu, warga Jakarta dihebohkan dengan jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 milik perusahaan Rusia di puncak Gunung Salak, Bogor.

 

Pesawat naas ini sedang melakukan joy flight atau terbang perkenalan dari lapangan terbang Halim Perdanakusuma (dulunya lapangan terbang Cililitan) ke arah selatan.

 

Namun entah kenapa, menabrak tebing gunung Salak, sehingga seluruh penumpangnya yang berjumlah 35 orang tewas semuanya. Termasuk pilot dan kopilot berkebangsaan Rusia.

 

Mungkin banyak orang belum tahu bahwa di jaman kolonial Belanda sebelum Jepang masuk permulaan tahun 1942, terdapat sejumlah orang Rusia yang menjadi penduduk Jakarta atau Batavia waktu itu.

 

Mereka datang ke Batavia sekitar tahun 1915 untuk menyelamatkan diri dari kaum Bolshevik. Juga kemudian setelah pecah revolusi Bolshevik komunis Rusia tahun 1917. Mereka lari karena mereka bukan penganut faham komunis atau termasuk kelas pekerja sehinga takut kena imbasnya.

 

Beberapa dari mereka berprofesi sebagai artis pemain musik dan penari balet. Sehingga di Batavia jaman itu, beberapa dari pemusik, guru piano dan guru balet adalah pendatang warga Rusia ini.

 

Mereka antara lain mendirikan ensembel musik di Batavia. Pada tahun 1930, berdiri orkes Balalaika, yaitu orkes musik khas Rusia dibawah pimpinan Doblovtsky. Salah satu lagu Rusia yang terkenal, Dark Eyes, kemudian menjadi lagu Sunda Panon Hideung.

 

Musisi Rusia ini banyak bermain dalam teater musik yang di jaman itu terkenal sebagai komedi atau opera bangsawan, selain mempertunjukkan kebolehan mereka di gedung kesenian atau di hotel. Mereka juga bermain di bioskop sebagai hiburan awal dan pengiring pertunjukan filem dimana waktu itu masih filem bisu.

 

Banyak dari anak-anak mereka kemudian “melebur” menjadi warga Belanda, baik karena perkawinan campuran atau pendidikan formal mereka. Setelah kemerdekaan, warga keturunan Rusia ini menghilang karena meninggalkan Indonesia, umumnya pergi ke negeri Belanda.

 

Kecuali satu dua keturunannya yang masih memilih tinggal di Indonesia. Salah satu yang keturunan mereka adalah Dr. Robert Reverger, seorang dokter ahli jiwa (psikiater), lulusan FKUI tahun 1973 yang kemudian bertugas di Bali hingga sekarang. Dia menceritakan kepada saya bahwa dia masih ada keturunan darah Rusia.

 

Pada akhir tahun 1950an dan permulaan tahun 1960an jaman Orde Lama, di Jakarta juga terdapat komunitas kecil orang Rusia. Karena waktu itu hubungan Indonesia dan Rusia (Uni Sovyet) cukup baik.

 

Indonesia membeli banyak alat persenjataan dari Rusia di akhir tahun 1950an dan permulaan tahun 1960an setelah pecah pemberontakan PRRI/Permesta dan persiapan untuk merebut Irian Barat (nama propinsi Papua waktu itu) dari tangan Belanda.

 

Antara lain membeli kapal laut tempur, kapal selam, tank amfibi, pesawat tempur udara MIG 15 dan 17 (sekarang bangkainya dipajang di depan museum ABRI di jalan Gatot Subroto), pembom Ilyushin dan beberapa lainnya seharga waktu itu sekitar 2,5 milyar dolar AS dalam bentuk kredit hutang dari pemerintah Uni Sovyet.

 

Juga waktu itu banyak mahasiswa Indonesia yang pergi belajar ke Rusia. Banyak lulusan Rusia ini yang kembali dan menjadi warga Jakarta, namun beberapa tidak kembali setelah pecahnya peristiwa G30S dan ada yang menetap di Rusia atau negara lainnya hingga kini.

 

Di jaman Orde Baru, hubungan Indonesia-Uni Sovyet tidak begitu bagus. Namun, setelah ambruknya Uni Sovyet dan Rusia menjadi sistem “kapitalis”, nampaknya hubungan Indonesia-Rusia menjadi cukup meningkat!  (firman lubis)





* Prof. dr. Firman Lubis MPH adalah Ketua Koalisi untuk Indonesia Sehat, juga pemerhati masalah perkotaan Jakarta



indeks berita
Untuk mengomentari berita ini Anda harus login terlebih dahulu. klik di sini untuk login komentar.




© Copyright 108Jakarta.com - All rights reservedmember of my3rabbits.com